Sabtu, 29 Juni 2009, SIK ngadain Tutsi (Tutap Pensi) yang yaaa so so lah lumayan menghibur terutama kabaret IX-a yang kocak hihi. Dan sekaligus ada pembagian raport semester 2. Dari awal gue udah optimis nilai gue bakal naik karena sebelum pembagian raport wali kelas geu uda blg "Din nilai kamu naik." Syukur Alhamdulillah dan alhasil gue jadi gak sabar liat raport gue. Di balik harap-harap cemas teman gue, terutama Devi yang penget banget nilai nya bagus supaya gak kena marah sama ibu nya karena ketauan ada hubungan dengan laki-laki bernama Galih, gue malah beterbangan kayak kupu-kupu di taman kaktus. Dari desus yang gue denger, bagi raport di mulai jam 8. So, dari rumah gue buru-buru berangkat dari jam setengah 9. DAN TERNYATA ! Sampe sana sekolah puncuma ada segelintir pasir. Dan ketika saya bertanya "Dev, bagi raport nya udah mulai belum?" dan davi pun menjawab "Belum, jam 12 lah mulai nya." JENG JENG ! SIAPA YANG BILANG BAGI RAPORT JAM DELAPAAAN ! Gue mulai menenangkan diri gue yang shocked berat akibat itu (Tring ! TIPU). (The real story) Gak lama Tutap di mulai dengan berbagai acara yang (lumayan) menghibur. Ada tarian cakra merah putih (kalo g salah nama nya itu) yang keren abiezzzzz. ADA FATINA SAMA GESHA LHOO ! Dan di tengah-tengah acara, tiang-tiang penyangga pada rubuh. Penimpa penonton dan memakan korban jiwa (Tring ! TIPU) yang sebenar nyaaa, ada angin kenceng karena tiba-tiba cuaca jadi mendung (Ow Ow bisa kacau acara) trus tiang-tiang penyangga pada jatoh dan nimpa satu orang murid SIK, Ahmad Agus Jaziilun. Tiang-tiang nya udah di singkirin dannn ternyata tiang itu hanya di taro untuk sensasi. Padahal ga pake tiang pun bisa.
Acara tutap selesai sekitar jam 12. BAGI RAPOOOT ! Di kelas ibu gue duduk samping ibu nya devi, oh may gak anak ga ibu duduk bareng, karena mereka belum kenal biar gue yang perkenalkan. Setelah kenal mereka ngobrol dan mencampakan gue. Ok kejadian sebenernya gak separah itu. Tiba saat nya giliran gue. Pas di liat nilai, nilai yang mencolok mata gue sampe bola mata gue keluar adalah Matematik dan English. 91 is puji syukur for me ! Senang bertambah ketika gue melihat gue is the 8th place ! Woohoo.
Abis bagi raport di gelarlah pensi yang di buka sama The Amateursszsutu (Aduh ser gue ga bisa spelling nyaaa) dan di akhiri oleh penutup yang sangat penghibur yaitu kabaret IX-a.
Selesai pensi, gue, Fatina, Amor dan Mustakim pergi ke Carrefour Midvalley belanja buat BBQ-an sorenya. Kita ber-4 belanja heboh banget ditambah Amor yang bawel. Belanja itu ternyata gak gampang, spare part tubuh gue n fatina udah pada rontok. Akhir nya kami mengakhiri belanja kami yang sudah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Balik ke Villa Puteri naik taksi. Sampe di Villa Puteri kami ber-3, tanpa Mustakim, tercampakan di lantai 3 karena Bintang gak bisa di hubungin. Setelah menunggu, akhir nya Bintang bisa di telpon "Tang lo dimana?" dengan santai nya dia menjawab "Di atas lo." -____- Gue sama amor langsung ke atas. Merepek-merepek, tiba lah saat pemanggangan. Buat api nya susah gilaaa ! Gue bagian motong-motong. Cowo-cowo yang berkesadaran membantu gue dan buat api. Akhir nya bisa, dan apinya baru nyalah ketika rahmat sang fire bander datang. Proses pemanggangan berlangsung lama dan memeras keringat. Para koki sangat amat bangga karena hasil masakan nya ya lumayan ga cuma duduk melamun nunggu makanan jadi,pas makan baru aktif minta nambah. Malam terakhir X-a sangat bermakna dengan kehadiran 18 murid dan 2 guru tercinta, Bu Eti dan Bu Dewi.S. Sedih banget kalo kita udah pisah terus nginget malem itu. Canda dan tawa yang selalu menghiasi hari kami bersama sekarang udah langka. Hope that night will happen again, with all of you guys :)
Saturday, June 20, 2009
20 Juni 2009 ---> Wonderful Last Day
Masterpiece of DhiniDuta at 7:42 PM 2 kata mereka
Sunday, June 14, 2009
Pelangi di Sydney
Tidak biasanya aku tidur senyenyak ini. Pagiku terlihat lebih indah dari biasanya. Air terasa lebih segar sampai-sampai segan rasanya menyudahkan mandi pagiku. Sambil menikmati sarapan pertamaku tanpa keluarga, aku berfikir sejenak sambil memandang matahari pagi dan menghirup udara segar, "Mungkin ini pertanda baik." pikirku. Sebelum melangkah meninggalkan apartment dan menyantap pekerjaan pertamaku, aku merasa seperti narapidana tak bersalah yang dibebaskan. Aku melangkah dengan pasti menuju suatu tempat dimana aku harus bekerja untuk menyambung hidup. Tibalah aku di sebuah restoran bintang lima milik seorang pengusaha berkebangsaan Perancis bernama Adrien Wickliff. Aku tertarik bekerja di sini karena aku tidak perlu repot-repot belajar memasak hidangan khas Perancis, karena bukan makanan itu yang mereka hidangkan, tetapi makanan tradisional Indonesia. Walaupun pekerjaanku sama seperti tukang pecel, hanya masak makanan yang setiap hari aku makan dan menghidangkannya kepada penduduk sydney dan sekitarnya yang suka dengan menu Indonesia. Ternyata benar kata pepatah kalau wanita ujung-ujungnya akan masuk dapur. Tapi siapa sangka kalau aku masuk dapur sebuah restoran bintang lima. Sesampainya di sana ku lihat sebuah seragam bertuliskan "Rita Kartika", namaku.
Setahun sudah aku bekerja di retoran 'la Délicieux Aliments'. Tidak ada yang mengira kalau gajiku selama setahun bisa memberiku sebuah rumah minimalis dengan sebuah kolam renang, halaman yang rindang dan kebun bungan kecil di belakang rumah, serta sebuah Ferrari 360 Spider mengisi garasiku. Musim panas tahun ini aku memilih berlibur ke pantai bersama ayah dan bunda. Aku sudah menyiapkan 2 tiket Jakarta - Sydey untuk mereka. Sekaligus aku ingin menunjukan hasil jerih payahku kepada mereka. Aku sudah tidak sabar menelfon mereka untuk memberitahu tentang rencanaku ini. Aku memutuskan untuk menelfon bunda sore ini. Entah enapa fikiranku terfokus kepada bunda. Rasa gundah menyelimuti siangku. Karena khawatir aku cepat-cepat mengambil telephone genggamku dan menelfon bunda, tetapi tidak aktif. Kegundahanku sampai ke puncaknya. Aku segera menelfon ayah untuk memastikan. Kegundahanku terjawab sudah, ayah bilang ibu sedang dalam proses melahirkan, aku akan memiliki seorang adik laki-laki, aku akan menjadi seorang kakak. Setelah ayah memberitahuku tentang kabar gembiranya untukku, tidak lupa aku menyampaikan kabar yang aku punya. Bulan depan ayah, bunda dan Rodrick, adik baruku, akan tiba disini. Aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan Rodrick kecilku yang aku tunggu sejak aku berusia 5 tahun,15 tahun yang lalu.
Hari ini mereka akan datang, semua sudah kupersiapkan. Aku ridak sabar ingin memeluk mereka. Sudah 1 tahun lebih aku terpisah dari ayah dan bunda. Rindu sekali rasanya. Ditengah penantianku, telephone genggamku berbunyi, rupanya dari tante Siska di Bandung yang tinggal tidak jauh dari rumah ayah bunda. Setelahku angkat, Ia terdengar seperti sedang menangis. Aku bingung mengapa tante Siska menelfonku sambil menangis. "Rita, tante harap kamu tabah, tante tahu betapa sayangnya kamu dengan orantuamu. Tapi..." jelasnya sambil menahan tangis. "Sekarang mereka sudah berangkat. Berangkat kepangkuan Tuhan. Mobil yang ayahmu kendarai tertabrak trak minyak yang hilang kendali di jalan tol menuju Soekarno Hatta." Aku terdiam, air mata perlahan-lahan jatuh. Entah apa yang harus ku perbuat saat ini. Orang yang aku cintai dan mencintaiku kini telah pergi, untuk selama-lamanya. Musim panas tahun ini, adalah musim panas paling kelabu yang pernah aku alami. Hidupku terasa hampa dan tak bermakna. Harta yang kini aku dapat seperti tidak berharga tanpa ayah dan bunda.
Keesokan paginya, aku berangkat ke Bandung untuk menghadiri pemakaman ayah, bunda dan Rodrick. Setelah 2 minggu disini, aku memutuskan untuk kembali ke Sydney. Hidupku hampa, sedih dan aku merasa sudah tidak berguna tanpa mereka. Setiap hari aku pandangi senyum ayah bunda dari sebuah album kecil. Tiba-tiba aku teringat akan pesan bunda, jangan rusak satu belanga susu dengan satu titik nila. Aku berfikir dan memutuskan untu terus semangat dan tidak lagi mengacaukan hidupku dengan kesedihan. Aku yakin ayah, bunda dan Rodrick di surga sana akan kecewa jika melihatku terus begini. Aku harus kembali bersemangat! Mereka akan bahagia jika melihatku bahagia. Biarpun mereka sudah tiada, tapi peluk, cium dan nasehat-nasehat mereka akan terus melekat di hatiku...
Masterpiece of DhiniDuta at 7:27 AM 4 kata mereka
Friday, June 12, 2009
The Making of "Beatrice Abney"
Saya sedang membuat projek cerpen yang syukur-syukur bisa jadi novel kecil pertama saya yang berjudul "Beatrice Abney" murni karangan Dhini Duta Lestari yang di bantu oleh para penolong seperti Devi A.P dan Bu Dewi S. Doakan lancar...
Masterpiece of DhiniDuta at 7:20 AM 0 kata mereka
Pisang Penyet
Asli buatan saya yang bikin gue ketagihan karena ini SEDAP BETOOOL ! Mau coba? Gampang kok.
Masterpiece of DhiniDuta at 6:09 AM 0 kata mereka
Bocah-Bocah Pemikat Hati
LUCU GILAAAA ! er er errrr.

Masterpiece of DhiniDuta at 3:50 AM 2 kata mereka
Sunday, June 7, 2009
News Hunter
Belakangan ini banyak kasus "hot" yang terjadi di Jakarta. Bukan karena gak mau di bilang cupu atau apapun, gue iseng mencari berita sampe ke akar nya dari berbagai macam sumber. Kayak kasus Manohara and Prita Mulyasari. Kasus Manohara bagi gue udah selesai karena menurut sumber yang gue baca itu hanyalah drama dia sama sang ibu semata-mata buat earn money untuk menutupi hutang ibu nya yang berjumlah miliyaran rupiah. Maka nya ia berani "menjual" anak 17tahun nya. Itu berita yang gue baca.
Masterpiece of DhiniDuta at 3:29 AM 0 kata mereka